Moxiximo
impossible is NOTHING but a wordArchive for viola
picking path
Akhirnya aku ‘tembus’ ke dunia perorekstraan ibukota juga. Minggu depan konser 25 thn YMJ, bareng OSNI Pro, di Balai Sarbini. Setelah 6 thn main biola plus lika-likunya, akhirnya aku berhasil nebeng OSNI di konser itu jadi pemain viola.
Panik. Gara2 part-nya baru nyampe kemaren, pdhl malem ini udah cabs ke BSD. & lebih panik lagi waktu liat ‘toge-toge’ spesies baru (maxudnya ritmik & melodi yg ga biasa). Oiya, repertorinya Chopin’s Piano Concerto no.1, Bruch’s Violin Concerto no.1, & Aus Holbergs Zeit. Mungkin bagi mereka yg udah biasa malang melintang di orkes pro biasa aja ya, tapi aku kan baru kali ini ikut. Mana ga pernah sekolah musik. Mana belajar musiknya ‘abal-abal’ alias otodidak yg ga tau arah pendidikan musik yg jelas….
Kalo dipikir-pikir, padahal hidupku bisa lebih mudah tanpa yg namanya biola bersaudara itu. Aku bisa 100% di dunia desain. Nyari kerja pastinya gampang wong aku cumlaude & berdasarkan pengalaman KP tahun lalu rasanya semua bisa di-handle dgn baik lah. Bahasa Inggris juga lumayan. Presentasi mahir. Terus knp aku malah milih dunia yg bersebrangan ini?
Aku milih merangkak dari nol lagi. Membuang semua embel2 sarjana cumlaude-ku, pengalaman KP-ku, seminar2-ku, & jejaring2-ku. Aku memilih untuk menderita, jadi tampak bodoh & amatiran lagi, di bidang yg sama sekali asing. Kenapa aku nggak milih hidup yg santai2 aja & sesuai dgn jenjang pendidikan yg aku ambil sebelumnya? Ada tawaran kerja di konsultan gede kok malah jadi ‘pengamen’….
Apa manusia memang gitu? Nggak pernah puas, selalu penasaran, & nganggap rumput tetangga selalu lebih hijau?
Some of my friends think that being a musician is a lot more fun than a designer. Well, both are fun for me. It’s only about where my heart laid on…