Moxiximo

impossible is NOTHING but a word

Archive for mudik

view from top

Seperti masa mudik sebelumnya, tahun ini juga aku sekeluarga berangkat ke Surabaya dengan memanfaatkan jasa penerbangan. Rasanya kangen mudik darat yang bisa sekalian wisata kuliner sepanjang utara atau selatan Jawa sekaligus lika-liku & kehebohannya. Tapi berhubung kondisi skrg kayak gini, ya nggak apa-apa lah lewat udara juga, yg penting mudik.

Berangkat dari Bandung subuh2 naik bus Primajasa yg langsung ke Cengkareng. Kayaknya belum bangun bener, rambut masih acak2an, tidur lagi deh di bus. Nyampe sana kelaperan, mendadak ngidam croissant-nya Dunkin Donuts. Langsung makan dengan kalapnya. Terus langsung ke ruang tunggu deh. Mules2. Berhubung mendadak kedatengan ‘tamu’, jadilah aku & kakakku langsung gerilya nyari2 kiranti di semua toko bandara. Huff.

Sempet kesel sama kemunculan sekelompok grup band yg sok2 terkenal & ingin jadi pusat perhatian. Perasaan nggak pernah liat mereka deh, tapi gayanya sok ngartis & pengen diliat gitu. Bawa2 alat musik (aku juga sih) & ngobrol keras2 soal memanggungnya mereka di bbrp kota di Indonesia. Udah gitu dandanannya udah kayak mau manggung aja. Perasaan KD juga ga gitu2 amat deh. Huh, kesel ngeliatnya. Udah ah.

Waktu mau mulai terbang, ada perasaan aneh (rasanya kayak pasrah menghadapi kematian) yang biasanya nggak pernah muncul. Mungkin gara2 sempet ngomongin soal naik pesawat sama temen2 bbrp waktu lalu ya. Deg-degan lah waktu pramugarinya menjelaskan cara make pelampung penyelamat, ngebuka pintu darurat, & make masker oksigen – kayaknya aku udah hafal sampe ke bahasa isyaratnya deh.

Begitu lepas landas, aku yang kebetulan duduk tepat di bagian tengah pesawat (bagian sayap) langsung merhatiin sayap pesawat itu. Agak horor rasanya, karena komponen2nya goyang2 gimanaaa gitu kayak mau lepas…

Tapi yang paling luar biasa itu waktu pesawat berhasil menembus gumpalan awan kumulus. Aku takjub melihat birunya langit di atas awan putih setelah sebelumnya di Jakarta langit tampak kelabu. Ternyata langit di atas Jakarta masih biru. Langit Jakarta terlihat kelabu karena lapisan polusi yang menutupinya! Perasaanku antara takjub & nelangsa melihat garis batas lapisan abu-abu itu dan birunya langit. Rasanya ingin langsung jeprat-jepret & upload ke blog, tapi sayang ga bawa kamera & hpnya dimatikan (tau gitu dijadiin flight mode aja. sial…). Aku sedih membayangkan masa depan bumi ini… Beginilah kira-kira posisi jenis-jenis awan itu:

Nah, posisi pesawat kira-kira di middle clouds waktu lapisan polusi itu kelihatan jelas. Pesawat menanjak terus sampai ketinggian 33.000 kaki, jadi lapisan itu memang cuma terlihat beberapa saat setelah lepas landas & ketika akan mendarat. Selebihnya, sepanjang perjalanan lapisan biru mudanya langit justru terlihat di bawah, sementara di bagian atas langitnya justru lebih gelap (biru tua). Mungkin udah lepas batas atmosfer ya? Terbayanglah cita-cita masa lalu untuk jadi astronot. Mungkin nggak ya suatu saat nanti aku menembus garis batas atmosfer bumi menuju gelapnya angkasa luas?

Aku jadi merasa konyol. Sudah puluhan kali naik pesawat, baru kali ini aku benar-benar memperhatikan kondisi langit di luar. Waktu pulang dari Surabaya rasanya ingin melihat langit lagi, tapi sayang aku duduk di kursi paling belakang & tidak di samping jendela. Kalau sudah begitu, rasanya semakin panik dengan kondisi bumi di masa depan. Kontribusi apa yang bisa aku berikan untuk menyelamatkan bumi tercinta ini?