Moxiximo
impossible is NOTHING but a wordArchive for Indonesia
Proud to be Indonesian
Hari ini pemilihan Presiden Amerika Serikat, & entah kenapa berita di TV isinya jadi penuh kegiatan pilih memilih itu. Mungkin gara-gara pemilu di sini undang-undangnya diutak-atik melulu; orang-orangnya itu lagi itu lagi; partainya kebanyakan & dengan tujuan yang ga jelas… Mungkin orang-orang mulai bosan dengan negaranya sendiri…
Tapi konyolnya, kenapa masyarakat ikut heboh milih Obama?? Dan cuma gara-gara Obama pernah numpang sekolah di Menteng terus kesannya beliau dekat dengan Indonesia. Padahal apa hubungannya? Cuma berapa tahun sih dia di Indonesia?
Rasa simpati masyarakat Indonesia – dan sebagian besar negara2 di dunia – kepada Obama sangat besar. Kalau dilihat-lihat memang gaya bicaranya, program-programnya, itu semua sangat menjanjikan untuk perkembangan negara. Didukung pula dengan dunia yang sepertinya sudah muak dengan pemerintahan Bush – denger2 katanya Bush bahkan dimusuhi sama partainya sendiri. Tapi sebenarnya masyarakat Indonesia terlalu berangan-angan kosong dengan mendukung Obama.
Faktanya - mengutip tulisan Dewi Fortuna Anwar yang saya baca di Kompas pagi ini – ketika Amerika dikuasai oleh Partai Demokrat, kebijakan-kebijakan yang dibuat cenderung menyulitkan perekonomian Indonesia. Mengapa? Karena partai Demokrat itu dikuasai oleh kalangan buruh, aktivis lingkungan, dkk sehingga kebijakan yang dibuat selalu diutamakan untuk lingkungan, kemanusiaan, dan sejenisnya. Permasalahannya adalah, standar yang dibuat – dalam hal ini mengenai ekspor – terlalu tinggi bagi negara berkembang seperti Indonesia, sehingga pada masa Partai Demokrat berkuasa seringkali perekonomian Indonesia tersendat karena kebijakan-kebijakan itu. Sementara pada masa pemerintahan Bush sebenarnya Indonesia banyak diuntungkan dengan kebijakan-kebijakannya.
Jadi, ketika masyarakat Indonesia menaruh simpati berlebihan kepada seorang Barrack Obama, bukankah itu pertanda bahaya? Apa yang terjadi bila kemudian fakta yang muncul tidak sesuai dengan apa yang mereka angan-angankan?
Satu hal yang paling penting di sini sebenarnya kenyataan bahwa Barrack Obama adalah capres AS, bukan Indonesia! Alangkah konyolnya ketika dalam suatu dialog di sebuah TV swasta dimunculkan pernyataan bahwa bila Obama menang, maka kemungkinan hubungan AS dan Indonesia akan lebih baik mengingat Obama pernah bersekolah di Indonesia (!!!)
Saya memang pengagum Barrack Obama, seperti saya mengagumi Al Gore, Oprah, Soekarno, dan tokoh-tokoh penting lainnya, tapi saya 100% sadar bahwa saya bukan warga AS dan tidak ada urusan sama sekali dengan berjalannya pemilu di sana. Terinspirasi? Ya. Terpengaruh? Sama sekali tidak.
Banyak hal yang perlu dipelajari dari demokrasi AS, tapi bukan berarti mencontohnya 100%, apalagi ikut-ikutan menentukan pilihan.
Saya, kamu, Anda, kalian, adalah warga negara Indonesia, maka hiduplah dengan menjunjung tinggi negara ini. Seburuk apapun, bukankah kita tetap mencintai dan bangga kepada diri sendiri? Maka, seburuk apapun negara ini, tetaplah cinta dan bangga kepadanya. Kita tinggal di bumi Indonesia, menghirup udaranya, meminum airnya, menginjak tanahnya. Berikanlah sedikit rasa terimakasih kita kepada ibu pertiwi, jangan biarkan ia terus bersusah hati.
170808
63 tahun sudah Indonesia merdeka, dgn segala dinamikanya. Angka 63 itu kalo diterapkan ke manusia berarti cukup tua ya, apalagi Rasulullah Muhammad SAW wafat di usia 63 tahun. Tapi tunggu, kalau itu dijadikan patokan… Akankah negara Indonesia ini mati di usianya yang ke-63??
Setiap perayaan kemerdekaan Indonesia, rasa nasionalisme selalu kembali tumbuh setelah selama setahun mengalami ketidakstabilan – setidaknya bagi saya. Dalam kurun waktu setahun, nasionalisme itu diombang-ambing oleh beberapa faktor yang dominan:
1. Kondisi lalu lintas. Rasanya malu melihat bangsa ini begitu semrawut, kampungan, & tidak patuh terhadap aturan yg berlaku. Jangankan rakyat mau patuh, wong aturannya aja nggak jelas… Sekarang tanda2 lalu lintas dibuat dlm bentuk tulisan panjang2, bukan rambu2 seperti dulu. Mungkin karena tdk ada yg mengerti makna rambu2 tsb, bahkan polisi yg bertugas. Belum lagi pengendara motor & angkutan umum yg sembarangan, nyetir silang kanan-kiri mbingungi… Pengendara kendaraan pribadi juga sama noraknya. Nggak ada sopan santun sama sekali. Jadinya tiap kali keluar rumah yg ada kepalaku berasap, terjadi penuaan dini…
2. Masih terinspirasi dari jalanan. Sepanjang jalan dari rumah ke kampus, yg memakan waktu sekitar 45-60 menit, banyak hal yg mengganggu pikiran. Jumlah pengemis & pengamen makin banyak - mulai dari anak yg terlalu kecil, org dewasa yg sehat tp malah minta2 doang, sampe yg udah uzur yg harusnya duduk di rumah menikmati masa tua. Di sisi lain, jumlah mobil mewah juga makin banyak. Ini gejala sosial yg aneh, di mana yg kaya makin kaya & yg miskin makin miskin. Liat aja itu tiap weekend, jalanan kota Bandung selalu padat oleh kendaraan pribadi yg isinya orang2 yg gemar buang duit.
3. Berita korupsi. Ini yg paling bikin kesel. Beritanya nggak cuma datang dari siaran berita di TV, tapi juga dari org2 di sekitarku. Penggelapan dana ratusan juta rupiah terjadi begitu saja di pemda Jabar. Pantesan, jabatan ga seberapa tapi bisa dpt Yaris, Altis, & mobil2 mewah lainnya. Korupnya nggak main2… Uang rakyat diembat juga.. Memangnya mereka nggak takut ditagih di akhirat ya? & keselnya lagi, kok ya bisa yg begitu dibiarin aja? Malah ada kecenderungan org yg ‘bersih’ itu justru masuk golongan marjinal di pemerintahan. Nggak beres. Ya gimana, pilwakot kmrn aja yg menang itu lagi, yg kerjanya pas masa kampanye doang. Buktinya begitu dia kepilih, perbaikan jalannya lgsg mandeg.
4. Hutanku gundul. Ternyata tidak hanya di Papua, Kalimantan, & Sumatera hutan2 itu menggundul. Beberapa waktu lalu aku melihat kondisi yg serupa di sekitar Lembang. 10 tahun yg lalu, pepohonan masih menghiasi gunung2 itu, namun belakangan ini gunung2 tsb berubah warna menjadi coklat gersang. Selain digunakan untuk membukan lahan baru, pembalakan liar pun marak di berbagai daerah di Indonesia. Apa yg ada dalam pikiran mereka? Memangnya kita bisa terus hidup tanpa menjaga keseimbangan alam? Sumpah aku nggak ngerti pemikiran mereka.
5. Politikus banyak omong. Saat ini terlalu banyak pemilihan, sampai2 aku 2x memutuskan golput. Bukannya tidak mendukung demokrasi, tapi siapa yg harus aku pilih? Orang2 yg sama, orang2 yg setipe, orang2 yg terlalu banyak bicara… Lagipula, apa bedanya aku nyoblos atau nggak? Toh aku cuma membawa 1 suara. Beda dgn Indonesian Idol misalnya, di mana 1 org bisa memberikan suara sebanyak2nya. Aku yakin sebagian besar masyarakat pun sudah jenuh dgn tampilnya orang2 yg itu2 lagi. Kalau pilpres tahun depan isinya masih itu2 saja, mungkin aku akan golput lagi. Percuma. Janji palsu yg terlampau banyak membuatku malas terlibat. Lebih baik aku saja yg jd walikota, gubernur, menteri, bahkan presiden. Sekarang sudah bukan masanya mereka mencalonkan lagi & mengacaukan negara ini – eh tapi bukannya aku nggak mendukung SBY ya.. Sebenernya dia cukup kompeten, tapi nggak didukung sama orang2 di bawahnya. Sayang.
Apapun faktor yg memfluktuasi kadar nasionalismeku, bagaimanapun juga aku tetap termasuk ke dalam bangsa Indonesia yg besar ini. Masih ada hal2 yg membanggakanku walau hanya sedikit. Untuk ke depannya, aku akan terus memupuk rasa cinta kepada tanah air & kemudian berusaha mengembalikan rasa kebangsaan itu. Sebagian besar orang telah kehilangan nasionalisme, bahkan cenderung individualistis. Entah apa yg dapat mengembalikan rasa cinta kepada negara & bangsa, serta kepedulian terhadap sesama, kepedulian thd lingkungan.
Melihat kondisi sekarang ini… Akankah Indonesia mati? Semoga tidak.
