Moxiximo

impossible is NOTHING but a word

Archive for simple thoughts

it’s garden party!

I always wanna do this garden party stuff for my (someday) wedding ‘coz it sounds cool & fun. I mean, with all the fresh air, green grass, blue sky, white dresses (okay, I mean it’s me who’ll be wearing white)… who doesn’t want it??

Then, yesterday one of my partners – well, I don’t know actually what relative we’ve had – got married in a garden party. I thought it’d be hard to have a garden party in such season – it’s rainy! But I expected a good preparation such as ‘pawang’ since she’s a public figure anyway, so I was hoping there’d be no rainy-season-problem.

Unfortunately, it happened! It was raining quite hard and ruined my hair  – I made up my hair with all my heart & in the end I got the rain pouring on to it, duh!

You know what’s the worst of all? I was wearing 7 cm high heels! Ok, you might say “why fuss? it’s just 7 cm high!” But it was a garden party! You know how horrible it is to walk on the wet field with high heels! Those 7 cm heels kept thrusting the soil so it made me hard to walk – or even to stand steady! Therefore, I got my feet hurt all along the party…

So, it’s a big NO to make a garden party in a season like this – I’d rather stand under the evil sun shine than a pouring rain.

Also it’s a big NO NO to wear high heels to a garden party! Well, I’ve got this point before I went out, but since I didn’t have a decent flats so I forced myself to wear those tormenting shoes… So, in my (future) garden party, I’ll put this on the invitation: 

060420093961

Or I’d make a sporty garden party instead, allowing you wearing pretty sneakers to my party. Sounds fun also, eh? Or I’d definitely choose a beach party then you won’t be worry about what shoes to wear. Yeah, that sounds better.

Well, stop it. I don’t even know when will I get married. Not even know whom I’ll be married to!

How does it felt to be disabled?

That question, all of sudden came through my mind today. I’ve always been ‘normal’ like others – I could walk, run, jump; own complete body parts… I always thought it was normal – like every people should be. It’s not that I didn’t know there are difables (for not using the word ‘disabled’) in this world, I just never think of them that much. Probably that’s because of the bad system in my country which doesn’t give enough care about the community.

Since I was a kid, I’ve been shown incredible difable people – a great painter who paints with her feet because she’s got no hands; she’s the only person I could remember ‘coz it seems like I’ve been losing memories these days. But why did I still don’t think of it seriously? Because people usually don’t think what they have.

I thought it was normal to be able to walk or run; now that I can’t run, I always miss it and keep asking “why can’t I?”.

I thought it was normal to do everything fast, and kept saying “how slow. can’t you do it faster?” to those who didn’t work as fast as I did; now that I need to do everything slower, I feel weird.

I thought it was normal to have a good memory; now that I’m always troubled in memorizing, I feel like being tortured.

I thought it was normal to have good reflex & spatial ability; now that I lost them, it’s frustrating.

I thought it was normal to be active, bumping into new activities everyday; now that I don’t have enough strength to do that, I feel lonesome.

I thought it was even normal to breathe; now that sometimes it’s hard for me to breathe…. I soon think of death.

I was respectless to what I had, been too much concentrated on what I had not. Maybe God is punishing me for being arrogant; or He’s just helping me to realize how great my life is. He’s been giving me lots of things but I always ask more and more. Now, I want to thank God for everything He’s been giving before I lose more. But, even if I lose more I would not stop respecting what I still have ’til I have nothing left.

We, humans, are selfish – but we don’t hope for being worse, right?

don’t judge your future

Few months a go, I made a decision for chasing my dreams in music & being an enterpreneur. I promised myself not to give up no matter what. I know it’s gonna be tough, but I’m gonna do it!

Yesterday, after a very deep thought, I decided to go back to my design world. It doesn’t mean that I give up music, but I really need money to live, right? So I made up my CV and portfolio. I thought, tomorrow’s concert’s gonna be my last opportunity in my univ. orchestra. Say goodbye to your friends, Putri…

But then, my friend from OSNI said, “Putri, dont forget to come to the 3rd audition.” which means I’ve passed the 2nd audition. What?? I’ve decided to leave music completely and that was what I got! Surprising – or rather shocking!

I couldn’t sleep well last night, because I thought about music & design a lot. If I leave my orchestra, I won’t be able to play viola anymore (because I’m using their viola…). If I leave abroad, or even only to Bali, what’s gonna happen with my string quartet? Will I be irresponsible because of that?

I couldn’t make a choice, so I tried to seek for an interior designer job opportunities. Unpredictably, I found it rather quick! I also have the qualifications needed.

What should I do?

It’s like I’m trapped between 2 different worlds which wouldn’t want me to leave them. I won’t make any promise any more, It’s like cursing myself…

catatan harian

 Beberapa hari yang lalu aku sedang berada di titik frustasi yang agak memuncak. Apa lagi kalau bukan gara2 krisis keuangan yang bikin kepalaku nyut-nyutan saking seringnya mikir ‘hari ini makan apa ya yg murah?’ dan ‘nanti naik angkot apa ya biar irit?’ atau ‘kapan ya aku bisa ngelunasin utang?’ dan pikiran-pikiran sejenis lainnya.

Di tengah kepusingan itu, mendadak aku terinspirasi untuk ‘bernostalgia’, mengingat masa-masa lalu yang lebih mudah dibanding hari ini. Untunglah dari dulu aku lumayan rajin mengabadikan kejadian sehari-hari dalam tumpukan catatan harian yang beraneka ragam, jadi acara nostalgia itu lumayan menyenangkan (mulai dari jamannya diary yg pake gembok, buku tulis disampul rapi & dihias2, sampe notes bekas seminar & kertas bekas print yang gagal. hahaha…).

books

setelah dikumpulkan jadi satu ternyata aku sudah menulis sebanyak ini

Aku membaca catatan 2,5 tahun yang lalu, tepatnya kisaran awal-pertengahan tahun 2006. Begitu membaca beberapa halaman, aku terkaget-kaget sendiri. Tulisanku jaman dulu (dengan tulisan tangan yang masih rapi, sekarang amburadul) benar-benar penuh rasa optimis & rasa syukur yang besar. Aku jadi teringat, waktu itu aku sepertinya jauh lebih religius dari sekarang. Lebih rajin, lebih sering besyukur & lebih sering ingat Allah SWT. Kejadian buruk pun aku komentari dengan “Mungkin Allah sedang mengujiku, bersyukurlah aku masih bisa diuji” dan komentar-komentar sejenisnya.

Begitu membaca, rasanya hampir tidak percaya bahwa aku yang menulisnya. Rasanya ingin kembali ke masa lalu & kembali menjadi diriku yang optimis, penuh rasa syukur, dan kuat.

Bersyukurlah aku punya catatan harian sehingga aku bisa mengingat hal-hal baik dan menjaganya, atau mengenang masa-masa buruk dan tidak mengulangnya. Dan aku pun tersadar, ternyata kisah hidupku menarik juga…

President of the Universe

Tidak terbendung lagi. Barack Obama telah terpilih menjadi Presiden AS yang ke-44. Semua orang sibuk membicarakan kemenangan Obama.

Change we can believe in.

Slogan kampanye Obama yang sering muncul di media massa sejak awal pencalonannya sangat menginspirasi. Manusia memang harus percaya kalau mereka bisa. Ketika rasa percaya itu ada, didukung dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan, maka akan terbuka jalan. Benar-benar slogan yang sangat optimis dan memandang jauh ke depan. Luar biasa.

Bandingkan dengan kampanye di Indonesia. Apa yang dikejar di sini hanyalah popularitas, tidak dengan membeberkan fakta dan program-program yang jelas. Sebenarnya apa tujuan para capres itu dengan mengincar posisi tertinggi di negara ini? Kekuasaan? Harta? Lalu ke mana perginya orang-orang berhati baik berjiwa pemimpin yang memiliki keinginan untuk maju?

Satu hal yang perlu dicermati yaitu kemenangan Obama yang tidak hanya di AS semata, melainkan di seluruh dunia. Beliau telah memikat hati masyarakat dunia yang juga mendukung dan bersimpati padanya. Hal ini berdasarkan polling yang digelar di beberapa negara di seluruh dunia, di mana sebagian besar menjagokan Obama sebagai Presiden AS.

Benar-benar fenomena yang unik. Saat ini Obama telah menjelma menjadi President of the Universe! Mengapa? Karena beliau dipilih oleh segenap masyarakat di seluruh penjuru dunia, tidak hanya di AS. Walaupun AS merupakan negara adi daya, dengan presidennya merupakan orang yang paling berpengaruh di dunia, namun demam Obama di seluruh dunia ini lebih dari itu. Akankah kemenangan Obama menjadi awal atas bersatunya masyarakat di seluruh dunia di mana perdamaian menjadi titik temunya?

Untuk mencapai suatu titik, begitu banyak jalan yang harus ditempuh. Begitu banyak gunung yang harus didaki, tembok yang harus dipanjat, lautan yang harus diseberangi, dan banyak lagi lainnya. Entah kehidupan macam apa yang dijalani Obama sehingga ia mampu menjelma menjadi sosok yang sangat berpengaruh seperti saat ini. Entah kerja keras macam apa yang dilakukannya sehingga mampu menyentuh hati masyarakat dunia. Aku juga ingin menjadi manusia yang luar biasa seperti itu.

Barack Obama bukan hanya menjadi Presiden AS keturunan Afrika pertama, tetapi juga menjadi Presiden Dunia pertama. President of the Universe.

Proud to be Indonesian

Hari ini pemilihan Presiden Amerika Serikat, & entah kenapa berita di TV isinya jadi penuh kegiatan pilih memilih itu. Mungkin gara-gara pemilu di sini undang-undangnya diutak-atik melulu; orang-orangnya itu lagi itu lagi; partainya kebanyakan & dengan tujuan yang ga jelas… Mungkin orang-orang mulai bosan dengan negaranya sendiri…

Tapi konyolnya, kenapa masyarakat ikut heboh milih Obama?? Dan cuma gara-gara Obama pernah numpang sekolah di Menteng terus kesannya beliau dekat dengan Indonesia. Padahal apa hubungannya? Cuma berapa tahun sih dia di Indonesia?

Rasa simpati masyarakat Indonesia – dan sebagian besar negara2 di dunia – kepada Obama sangat besar. Kalau dilihat-lihat memang gaya bicaranya, program-programnya, itu semua sangat menjanjikan untuk perkembangan negara. Didukung pula dengan dunia yang sepertinya sudah muak dengan pemerintahan Bush – denger2 katanya Bush bahkan dimusuhi sama partainya sendiri. Tapi sebenarnya masyarakat Indonesia terlalu berangan-angan kosong dengan mendukung Obama.

Faktanya - mengutip tulisan Dewi Fortuna Anwar yang saya baca di Kompas pagi ini – ketika Amerika dikuasai oleh Partai Demokrat, kebijakan-kebijakan yang dibuat cenderung menyulitkan perekonomian Indonesia. Mengapa? Karena partai Demokrat itu dikuasai oleh kalangan buruh, aktivis lingkungan, dkk sehingga kebijakan yang dibuat selalu diutamakan untuk lingkungan, kemanusiaan, dan sejenisnya. Permasalahannya adalah, standar yang dibuat – dalam hal ini mengenai ekspor – terlalu tinggi bagi negara berkembang seperti Indonesia, sehingga pada masa Partai Demokrat berkuasa seringkali perekonomian Indonesia tersendat karena kebijakan-kebijakan itu. Sementara pada masa pemerintahan Bush sebenarnya Indonesia banyak diuntungkan dengan kebijakan-kebijakannya.

Jadi, ketika masyarakat Indonesia menaruh simpati berlebihan kepada seorang Barrack Obama, bukankah itu pertanda bahaya? Apa yang terjadi bila kemudian fakta yang muncul tidak sesuai dengan apa yang mereka angan-angankan?

Satu hal yang paling penting di sini sebenarnya kenyataan bahwa Barrack Obama adalah capres AS, bukan Indonesia! Alangkah konyolnya ketika dalam suatu dialog di sebuah TV swasta dimunculkan pernyataan bahwa bila Obama menang, maka kemungkinan hubungan AS dan Indonesia akan lebih baik mengingat Obama pernah bersekolah di Indonesia (!!!)

Saya memang pengagum Barrack Obama, seperti saya mengagumi Al Gore, Oprah, Soekarno, dan tokoh-tokoh penting lainnya, tapi saya 100% sadar bahwa saya bukan warga AS dan tidak ada urusan sama sekali dengan berjalannya pemilu di sana. Terinspirasi? Ya. Terpengaruh? Sama sekali tidak.

Banyak hal yang perlu dipelajari dari demokrasi AS, tapi bukan berarti mencontohnya 100%, apalagi ikut-ikutan menentukan pilihan.

Saya, kamu, Anda, kalian, adalah warga negara Indonesia, maka hiduplah dengan menjunjung tinggi negara ini. Seburuk apapun, bukankah kita tetap mencintai dan bangga kepada diri sendiri? Maka, seburuk apapun negara ini, tetaplah cinta dan bangga kepadanya. Kita tinggal di bumi Indonesia, menghirup udaranya, meminum airnya, menginjak tanahnya. Berikanlah sedikit rasa terimakasih kita kepada ibu pertiwi, jangan biarkan ia terus bersusah hati.

Panik Batik!

Batik. Batik. Batik.

Salah satu kekayaan Indonesia yang satu itu nggak ada habisnya jadi topik pembicaraan di mana-mana. Yang sempat dipatenkan Malaysia lah, yang ditiru lah.. Nah, berita terbaru yang ada di koran Kompas pagi ini adalah maraknya batik asal Cina yang harganya bisa lebih murah sampai setengahnya!

Bagaimana bisa ada selisih harga sejauh itu?

Ternyata Cina menggunakan teknik printing untuk batik yang mereka produksi, tidak seperti Indonesia yang menggunakan canthing atau cap. Dengan dicetak langsung pada kain, maka batik bisa diproduksi massal dalam waktu yang relatif singkat. Tentunya penghematan waktu & tenaga mampu mengurangi biaya produksi. Selain itu, bahan baku pembuatan batik di Indonesia ternyata 80%-nya perlu diimpor dari Cina(seperti benang, sutra, cat, dll) sehingga otomatis batik buatan Cina menjadi lebih murah.

ini salah satu contoh batik print buatan China

Ironisnya, batik buatan Cina itu masuk juga ke Indonesia dengan harga jual yang jauh lebih murah! Hal ini mengancam para perajin batik Indonesia karena batik Cina itu -dengan harga yang lebih murah- mampu menarik lebih banyak konsumen.

Sebagai pecinta batik -dan warga negara yang mencintai kebudayaan Indonesia- saya merasa sangat kecewa dengan munculnya ‘kasus’ ini. Mengapa pemerintah mengizinkan impor batik Cina? Meskipun katanya sebagian besar produk tersebut masuk ke Indonesia secara ilegal, tapi kenapa seperti tidak ada tindakan untuk mencegah maraknya perdagangan batik buatan Cina itu? Bahkan pemerintah menyatakan tidak khawatir dengan masuknya batik Cina ke Indonesia karena batik Indonesia unggul dari segi kualitas. Seharusnya mereka sadar, daya beli masyarakat Indonesia pada umumnya masih rendah sehingga mereka pasti memilih produk yang lebih murah.

Parahnya, saya yang penggemar berat batik sudah terlanjur membeli beberapa potong blus batik yang sepertinya buatan CIna. Bagi para konsumen batik, sebaiknya perhatikan baik-baik sebelum membeli, karena sebenarnya bisa dibedakan antara batik Cina & batik Indonesia seperti berikut ini:

1. Harga batik Cina lebih murah, dalam kisaran Rp. 50.000,-

2. Karena dibuat dengan cara printing, maka batiknya lebih mudah pudar dibandingkan batik tulis atau cap.

3. Sekilas memang sulit dibedakan, namun dari segi kualitas gambar terlihat perbedaan antara batik Cina & Indonesia, di mana batik yang dibuat dengan canting atau cap tentu lebih berkualitas.

Hati-hati dalam membeli batik. Maksud hati memajukan batik dalam negeri, salah-salah justru menguntungkan negara lain….

talking about inspiration

What’s an inspiration for you?

For me, inspiration could be everything. It could come anywhere, anytime. I’ve got lots of inspirations from my friends, my surroundings, my teachers, my own life experiences, and of course from natures. And also from inspiring people like Al Gore, Oprah, Hellen Keller, Beethoven, Kaka’, and others. They are superb & I always wanna be as great as them – if not greater.

But what if you inspire others?

I was surprised when someone left me some comments on my blogs. He said he was inspired by my writings. Well, actually I always write what I wanna write, without any other intentions. Thank God if my life experience would inspire others. I’m glad for it.

Yes, I’d love to be an inspiring person.

a long lasting investment

I was dreaming last night, about an ‘investment’ that will give you profits more than you can imagine. I was wondering what kinda investment it is; & thinking about some business plan. But then, when my dream went on, it slapped me for being stupid because I only thought about money, money, and money. People need money for live, and I’m lacking money right now, no wonder I think about it too much..

But the investment I’m talking about isn’t for economical profit, but more about life. The investment goes for our lives, and will last for our children, and our grand children, and our grand grand children, and so on… What is it?

It is a simple priceless thing we’ve forgotten these days. Plant some trees! How could I not consider about planting trees for a life time investment? Maybe that’s why those politicians & governments forgot how important keeping trees is.

Instead of making green spaces inside the city, the make shopping malls. Instead of keeping the rainforests, they cut the trees down & get much money. You get the money, but lost one breath guys. What’s so great of it? Getting money by cutting trees, which will cut your future life? What’s so great of wearing branded fashion items or riding expensive limited edition cars but hardly breathing? Humans are selfish, and so am I.

Well, planting trees is not the only choice. There are lots of things we can do for our future investment, such as studying something and share it to others; helping others who need our helps when we are able to; be a good person, even if other people hate us; forgiving people’s faults; and lots of other simple good things that have been disappearing day by day.

Doing good things might not always bring money straight to your face, but it is a long lasting investment for your life – and after life.

a little bit of everything

Semua orang pasti pernah mengalami yg namanya ‘pencarian jati diri’ atau cita-cita. Mulai dari coba ini coba itu, ikutan tes bakat, sampe nanya ke dukun (ngawur… hahahaa).

Aku termasuk orang yg suka coba-coba. Mulai dari alat musik ibu2 alias organ, olah vokal, sampe balet pun aku jabanin – dulu. Dari cita-cita pun aku berubah-ubah. Mulai yang pengen jadi dokter (cita2 standar anak kecil), astronot, astronom, musisi, sampe arsitek & lighting designer.

Kenapa bisa begitu? Karena aku termasuk orang yang a little bit of everything. Aku bisa melakukan semuanya, aku punya bakat di semua bidang, tapi cuma sedikit – itu berdasarkan tes bakat yg pernah aku jalani lho ya, nggak asal cuap… Memang aku sempat frustasi dgn melimpahnya bakat itu. Kadang2 enak sih, nggak usah belajar susah-susah, nggak usah ngoyo kayak temen2 yg lain, aku udah bisa mencapai sama dengan pencapaian mereka. Tapi aku jadi gampang bosan. Ini udah, itu udah, udah mentok, udah, udah… & aku ga punya sesuatu yg istimewa, di mana aku jadi expert di bidang itu.

Setelah masa yang panjang… Akhirnya aku sadar. My little bit of everything itu merupakan karunia, bukan hambatan atau sesuatu buat dicaci maki. & pada akhirnya, aku tinggal menetapkan diri buat menekuni bidang yang sesuai dgn hati nuraniku. Lagipula, dgn terbukanya pintu ke arah dunia luas aku jadi belum terlalu puas lagi & belum terlalu bosan. Aku masih ingin lebih, lebih, & lebih.

Apa yg membuat manusia bisa menapak begitu tinggi itu bukan cuma cita2 yang digantung di langit, bukan cuma mimpi, tapi juga rasa penasaran & rasa tidak pernah puas atas pencapaiannya. Bukan berarti tidak bersyukur ya, tapi perasaan ‘aku masih bisa mendaki lebih tinggi’ itu yang harus ditanamkan di setiap pikiran manusia.

& I won’t be satisfied of being a little bit of everything, but I’m grateful for it.

Older entries »