Moxiximo

impossible is NOTHING but a word

Archive for musicmusicmusic

Concerto in G10, My Life in G10

Akhirnya perjuangan sejak Agustus berakhir tadi malam. Sebelum konser aku selalu takut. Takut mainnya jelek, takut ga kompak, takut ga layak, takut, takut…. Untunglah semuanya berakhir dgn baik. Alhamdulillah.

Konser perdana ITB Student Orchestra (ISO) ini sepertinya bakal jadi konser terakhirku bersama ISO. Pertama & terakhir. Rasanya sediiihhhh bgt begitu aku memutuskan untuk berhenti. Sepanjang konser, di atas panggung aku benar2 ga peduli sama yg lain. Ga ada tegang, ga peduli perut melilit gara2 maag, aku cuma mau menikmati satu kesempatan terakhir buatku bersama ISO. Menikmati rasanya bermusik, bidang yang sangat aku cintai. Tanpa musik aku bagai zombi, hidup tapi tak bernyawa…

Bagiku, ISO adalah kehidupan kampusku, sebagian masa mudaku. Berkat ISO, aku bisa kembali bermusik setelah 2 tahun vakum total. Hampir 90% kehidupanku selama 4 tahun kuhabiskan di ISO, & bahkan sekarang saat aku sudah lulus, aku masih merasa terikat di sana.

Sepanjang konser, aku bagai mengenang masa lalu. Mengenang masa-masa sulit itu, membagi waktu antara latihan, tampil, kuliah, ‘kejar setoran’, ‘kejar dosen’, menyelesaikan tugas tepat waktu… Sampai akhirnya keajaiban membawaku lulus tepat 4 tahun cum laude di jurusan yg aku benci…

Rasanya mau nangis waktu Adit agak2 bernostalgia sblm mainin encore ‘Time to Say Goodbye’. Dia juga mukanya kayak mau nangis pas conduct, bikin aku makin mau nangis. Untung nggak…

Dirunut2 memang sudah 3 tahun ini aku bergabung di ISO. Walaupun bukan pendiri & pengurus, entah knp aku selalu ngikut Adit ke mana2, jadi ikut merasakan suka dukanya kepengurusan & latihan. Aku ikut mulai dari yang masih bego (krn 2 tahun ga pegang biola), agak maju, jadi pemain viola pertama ISO, sampai terakhir aku bisa masuk OSNI. Semua berkat ISO! Makanya begitu memutuskan untuk ‘pergi’ rasanya beratttttt… Tapi waktu terus bergulir, aku nggak bisa diam di titik yang sama selamanya…

Concerto in G10 kemarin benar2 closing ceremony yang megah untuk kehidupan kampusku. Terimakasih banyak ISO. Terimakasih banyak orang2 yg sudah menonton kami & mengapresiasi musik kami dengan baik.

Untuk teman2 ISO generasi baru, teruslah berkarya. Jangan berhenti sampai di sini. Ini baru awal, bukan akhir. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan & bermusik bersama lagi. Aku tidak akan pernah mau berhenti bermusik, tapi inilah dunia. Inilah pencapaian tertinggiku bersama ISO, sekarang aku harus melangkah ke luar dan mendaki lebih tinggi lagi, menjalani kehidupan nyataku. 

Selamat tinggal ISO, selamat tinggal viola, selamat tinggal anime string orchestra, selamat tinggal kuartetku… I actually can’t leave you, but I have to

what the world needs now is love

Have you ever heard about Andrea Ross? For them who haven’t, just read her profile at www.andreaross.com

and here’s the link to the song: what the world needs now is love

I started to know her accidentally, when I borrowed my sister’s mp3s. I found Andrea’s album, Moon River. Because I’m a big fan of Henry Mancini’s Moon River – & also Breakfast at Tiffany’s – so I copied the album. I was lucky, I think, ‘coz the songs are wonderful! They’re all remade, but I don’t see anything wrong for it.

One of them titled ‘what the world needs now is love’. Yeah, this world’s really lack of love. If there’s enough love for everyone, not just for some, then there’ll be no wars or fights. Here are my fave lines of this song:

Lord, we don’t need another mountains. There are mountains and hillsides enough to climb, there are oceans and rivers enough ch to cross, enough to last ’til the end of time.

Lord, we don’t need another meadows. There are cornfields and wheatfields enough to grow, there are sun beams and moon beams enough to shine. Oh listen Lord, if You wanna know.

Yes, God created this world with enough mountains, rivers, meadows… But people destroyed them. Now we don’t have enough rivers or meadows. The lack of love made us lost those what God gave us. This song made me think a bit more about life, about what we’re really lack of. But then, who could produce love and spread it all over the world? I’d love to give as much love as I can, though I don’t achieve much. Giving is much better than achieving. So, spending life by giving love is enough, isn’t it?

Anyway, I wonder who composed this song. Does anybody know?

welcoming music to my life

Mau berbagi cerita tentang 1 minggu yg menyenangkan di Sekolah Tinggi Internasional Konservatori Musik Indonesia (STIKMI).

Jadi, selama seminggu aku tinggal di asrama sana yang lumayan bgt buat ukuran gratisan. Sekamar berdua doang, pake AC 24 jam (berhubung di BSD jadi kalo ga pake AC kebayang kan…), kamar mandi dalem & ada air panasnya, makan terjamin (saur-buka-makan malam), & bebas make ruang latian piano 24 jam! COOL! Sekarang aku jadi kangen di sana lagi, soalnya di sini abis buka udah ga bisa latian lagi. Berisik..

Nah, berhubung dari kecil aku bercita-cita sekolah di asrama gitu (boarding school), jadilah aku senang bukan kepalang. Apalagi asrama musik… It was like a dream comes true!  Walaupun cuma seminggu, walaupun bukan sekolah beneran… Senangnya luar biasa! Nggak capek2 aku latian, dari yg wajib (9.00-12.00 tiap hari) sampe latian sendiri, berdua sama anti, berkelompok kecil sama biola-cello-bass… Sebenernya aku jadi kabita kuliah (lagi) di sana, tapi pas tau biayanya 10 juta per semester.. Huhu… Mengendaplah keinginan itu bersama pundi-pundi harta yang tak dimiliki saat ini…

Saur bareng, latian bareng, buka bareng, belanja bareng (khusus para wanita. hehehe), kena macet bareng, pokoknya seru! Makanya begitu konser berakhir & sebagian besar langsung pulang, asrama pun sepi… Orang-orang yg tersisa langsung begadang di balkon sambil ngobrol2 ga jelas sambil makan nasgor. Melekan sampe subuh. Hahaha. What a week…

Walaupun ada beberapa hal yg bikin kecewa (oh ternyata orkes pro itu ‘gini’…) & bermasalah (shoulder rest copot pas lagi konser & senar turun drastis di tengah2 lagu), tapi aku seneng bgt bisa dapet pengalaman super berharga itu. & berkat seminggu penuh musik itu, rasanya aku makin mantap melangkah keluar dari dunia desain interior. Hmm… Nggak sepenuhnya keluar ya, aku masih suka desain & masih terima proyekan kok. Tapi, maksudnya aku udah menutup rapat2 keinginanku buat kerja di konsultan.

Sekarang aku jadi masang target lebih tinggi utk mengejar cita-cita lamaku: jadi musisi. Bukan musisi abal-abal kayak yg sekarang banyak beredar, aku 100% serius mau mendalami klasik & belajar sampe ke Eropa. Hmm… Kembali ke titik nol? Siapa takut. Aku nggak takut gagal (udah sering gagal sih, jadi kebal) & nggak takut kecewa (udah sering juga). Hidup cuma satu kali, jadi aku nggak mau menyesal untuk kedua kalinya.

picking path

Akhirnya aku ‘tembus’ ke dunia perorekstraan ibukota juga. Minggu depan konser 25 thn YMJ, bareng OSNI Pro, di Balai Sarbini. Setelah 6 thn main biola plus lika-likunya, akhirnya aku berhasil nebeng OSNI di konser itu jadi pemain viola.

Panik. Gara2 part-nya baru nyampe kemaren, pdhl malem ini udah cabs ke BSD. & lebih panik lagi waktu liat ‘toge-toge’ spesies baru (maxudnya ritmik & melodi yg ga biasa). Oiya, repertorinya Chopin’s Piano Concerto no.1, Bruch’s Violin Concerto no.1, & Aus Holbergs Zeit. Mungkin bagi mereka yg udah biasa malang melintang di orkes pro biasa aja ya, tapi aku kan baru kali ini ikut. Mana ga pernah sekolah musik. Mana belajar musiknya ‘abal-abal’ alias otodidak yg ga tau arah pendidikan musik yg jelas….

Kalo dipikir-pikir, padahal hidupku bisa lebih mudah tanpa yg namanya biola bersaudara itu. Aku bisa 100% di dunia desain. Nyari kerja pastinya gampang wong aku cumlaude & berdasarkan pengalaman KP tahun lalu rasanya semua bisa di-handle dgn baik lah. Bahasa Inggris juga lumayan. Presentasi mahir. Terus knp aku malah milih dunia yg bersebrangan ini?

Aku milih merangkak dari nol lagi. Membuang semua embel2 sarjana cumlaude-ku, pengalaman KP-ku, seminar2-ku, & jejaring2-ku. Aku memilih untuk menderita, jadi tampak bodoh & amatiran lagi, di bidang yg sama sekali asing. Kenapa aku nggak milih hidup yg santai2 aja & sesuai dgn jenjang pendidikan yg aku ambil sebelumnya? Ada tawaran kerja di konsultan gede kok malah jadi ‘pengamen’….

Apa manusia memang gitu? Nggak pernah puas, selalu penasaran, & nganggap rumput tetangga selalu lebih hijau?

Some of my friends think that being a musician is a lot more fun than a designer. Well, both are fun for me. It’s only about where my heart laid on…

Dedikasi 100%

“Semangat bermusik saya tidak akan pernah mati” (Chrisye)

Akhirnya aku selesai membaca buku ‘Chrisye – Sebuah Memoar Musikal’. Buku ini dulu baru sempat dibaca sekitar 1/3-nya, terhambat padatnya jadwal kuliah, pengerjaan tugas2, latihan, manggung, dsb – yang memang sempat membuat aku ‘tidak sempat bernapas’ atau bahasa lainnya ‘nggak gaul’. Terpenjara dalam aktivitas sampai-sampai berangkat pagi pulang malam & rumah hanya berfungsi sebagai tempat tidur. Sekarang, di saat sedang mutlak menganggur, aku menggila dgn kembali membaca beberapa buku, dan memoar musikal ini salah satunya.

Sejak kecil aku sudah terpesona oleh suara emas Chrisye, & lagu ‘Lilin-lilin Kecil’ menjadi favoritku sampai sekarang. Kagum, itu pasti. Tapi yang aku tahu tentang beliau cuma kenyataan bahwa beliau adalah seorang penyanyi yang spektakuler (tanpa banyak gerak bisa membius penonton! Hebat!), aku tidak pernah tahu betapa filosofisnya beliau & betapa besar kecintaannya terhadap musik. Aku terpana membaca latar belakang musiknya yang seperti itu – tidak perlu dirinci seperti apa, baca aja sendiri biar penasaran, hihihi. Jadi sebenarnya apa yang mampu beliau persembahkan, tampilkan, sebesar itu semata-mata karena kecintaannya terhadap musik dan keseriusannya menghadapi bidang tersebut!

Beliau menyebutkan bahwa ia hanya bisa memfokuskan diri pada satu bidang. Hal itu seperti menamparku. Selama ini aku merasa bisa melakukan banyak hal sekaligus sehingga aku merasa sebenarnya semua orang pasti bisa, termasuk Chrisye. Hanya saja, ia lebih memilih untuk berkonsentrasi 100% pada satu bidang. Itulah yang membuat hampir semua karyanya berkualitas 100%, tidak seperti sebagian besar orang saat ini -termasuk aku.

Sepanjang membaca perjalanan bermusiknya, aku merasa beliau begitu beruntung karena bisa bertemu dengan berbagai kalangan yang semakin memuluskan langkahnya dalam bermusik. Tapi, setelah membaca komentar berbagai ‘kalangan’ tsb, pikiran pertamaku sebenarnya muncul karena kerendahan hati seorang Chrisye. Keberuntungan memang perlu, tapi semua yang diraihnya itu mutlak merupakan hasil kerja keras, ketekunan, & rasa cintanya pada musik. Itu semua dipegangnya teguh hingga akhir hayatnya. Luar biasa. Artis mana lagi yang bisa bersikap seperti itu? Chrisye adalah manusia langka, manusia pilihan, seorang legenda, & sumber inspirasi setiap orang.

Satu hal yang membuatku tersentuh adalah ketika membaca tulisan betapa sulitnya beliau ketika menyanyikan lagu ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’. Begitu sulitnya hingga beliau berulangkali menangis, & rekaman pun hanya dilakukan sekali saja – tak mau lagi ia mengulangnya. Ruh dalam lagu itu begitu kuat, itu kira2 yang memberatkannya. Sekali lagi, aku merasa konyol. Begitu dalamnya penghayatannya dalam musik, begitu dalam pemahamannya akan sebuah lagu.

Terima kasih alm. Chrisye, buku memoar musikal itu seperti menyadarkan aku bahwa memang tidak ada yang mudah, tapi apapun kalau dikerjakan sepenuh hati pasti akan menghasilkan ’sesuatu’. Di tengah berbagai kebimbanganku, Tuhan seperti memberikan petunjuk agar aku memantapkan hati dan menguatkan keyakinanku. Aku berjanji, tidak akan pernah meragukan sedikitpun kebesaranMu. Subhanallah. Buku memoar musikal itu sesuai dengan apa yang beliau inginkan – beserta tim yang terlibat di dalamnya, yaitu memberikan harapan, impian, dan inspirasi.

Aku tersadar. Tidak ada yang lebih baik daripada kejujuran, rasa cinta, dan dedikasi 100%. Jujur, tidak menipu dengan berpura-pura mengemas diri menjadi orang lain, biarkan orang mengenal kita apa adanya. Mencintai bidang apapun yang ditekuni, hingga rasanya tidak mampu berpisah walau sedetikpun & tidak ragu sedikitpun akan bidang tersebut. Dedikasikan diri kita seutuhnya, jangan pernah setengah-setengah atau patah semangat – percaya dan yakin dengan apa yang kita kerjakan. Pada akhirnya, segala kerja keras itu tidak akan pernah ada yang sia-sia, walaupun hasilnya mungkin tidak langsung terlihat.

Perjalanan hidup benar-benar pengalaman yang berarti, & aku sangat berterimakasih kepada almarhum yg berkenan susah payah berbagi di tengah deraan penyakitnya. Semoga beliau diberi ketenangan di sisiNya. Semoga di sisa usiaku setelah ini aku bisa berbuat lebih banyak kebaikan dan meminimalisasi keburukanku. Amin.

Seperti Alm. Chrisye, aku juga percaya bahwa semangat bermusikku tidak akan pernah mati.