Moxiximo
impossible is NOTHING but a wordArchive for Indonesia
President of the Universe
Tidak terbendung lagi. Barack Obama telah terpilih menjadi Presiden AS yang ke-44. Semua orang sibuk membicarakan kemenangan Obama.
Change we can believe in.
Slogan kampanye Obama yang sering muncul di media massa sejak awal pencalonannya sangat menginspirasi. Manusia memang harus percaya kalau mereka bisa. Ketika rasa percaya itu ada, didukung dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan, maka akan terbuka jalan. Benar-benar slogan yang sangat optimis dan memandang jauh ke depan. Luar biasa.
Bandingkan dengan kampanye di Indonesia. Apa yang dikejar di sini hanyalah popularitas, tidak dengan membeberkan fakta dan program-program yang jelas. Sebenarnya apa tujuan para capres itu dengan mengincar posisi tertinggi di negara ini? Kekuasaan? Harta? Lalu ke mana perginya orang-orang berhati baik berjiwa pemimpin yang memiliki keinginan untuk maju?
Satu hal yang perlu dicermati yaitu kemenangan Obama yang tidak hanya di AS semata, melainkan di seluruh dunia. Beliau telah memikat hati masyarakat dunia yang juga mendukung dan bersimpati padanya. Hal ini berdasarkan polling yang digelar di beberapa negara di seluruh dunia, di mana sebagian besar menjagokan Obama sebagai Presiden AS.
Benar-benar fenomena yang unik. Saat ini Obama telah menjelma menjadi President of the Universe! Mengapa? Karena beliau dipilih oleh segenap masyarakat di seluruh penjuru dunia, tidak hanya di AS. Walaupun AS merupakan negara adi daya, dengan presidennya merupakan orang yang paling berpengaruh di dunia, namun demam Obama di seluruh dunia ini lebih dari itu. Akankah kemenangan Obama menjadi awal atas bersatunya masyarakat di seluruh dunia di mana perdamaian menjadi titik temunya?
Untuk mencapai suatu titik, begitu banyak jalan yang harus ditempuh. Begitu banyak gunung yang harus didaki, tembok yang harus dipanjat, lautan yang harus diseberangi, dan banyak lagi lainnya. Entah kehidupan macam apa yang dijalani Obama sehingga ia mampu menjelma menjadi sosok yang sangat berpengaruh seperti saat ini. Entah kerja keras macam apa yang dilakukannya sehingga mampu menyentuh hati masyarakat dunia. Aku juga ingin menjadi manusia yang luar biasa seperti itu.
Barack Obama bukan hanya menjadi Presiden AS keturunan Afrika pertama, tetapi juga menjadi Presiden Dunia pertama. President of the Universe.
Proud to be Indonesian
Hari ini pemilihan Presiden Amerika Serikat, & entah kenapa berita di TV isinya jadi penuh kegiatan pilih memilih itu. Mungkin gara-gara pemilu di sini undang-undangnya diutak-atik melulu; orang-orangnya itu lagi itu lagi; partainya kebanyakan & dengan tujuan yang ga jelas… Mungkin orang-orang mulai bosan dengan negaranya sendiri…
Tapi konyolnya, kenapa masyarakat ikut heboh milih Obama?? Dan cuma gara-gara Obama pernah numpang sekolah di Menteng terus kesannya beliau dekat dengan Indonesia. Padahal apa hubungannya? Cuma berapa tahun sih dia di Indonesia?
Rasa simpati masyarakat Indonesia – dan sebagian besar negara2 di dunia – kepada Obama sangat besar. Kalau dilihat-lihat memang gaya bicaranya, program-programnya, itu semua sangat menjanjikan untuk perkembangan negara. Didukung pula dengan dunia yang sepertinya sudah muak dengan pemerintahan Bush – denger2 katanya Bush bahkan dimusuhi sama partainya sendiri. Tapi sebenarnya masyarakat Indonesia terlalu berangan-angan kosong dengan mendukung Obama.
Faktanya - mengutip tulisan Dewi Fortuna Anwar yang saya baca di Kompas pagi ini – ketika Amerika dikuasai oleh Partai Demokrat, kebijakan-kebijakan yang dibuat cenderung menyulitkan perekonomian Indonesia. Mengapa? Karena partai Demokrat itu dikuasai oleh kalangan buruh, aktivis lingkungan, dkk sehingga kebijakan yang dibuat selalu diutamakan untuk lingkungan, kemanusiaan, dan sejenisnya. Permasalahannya adalah, standar yang dibuat – dalam hal ini mengenai ekspor – terlalu tinggi bagi negara berkembang seperti Indonesia, sehingga pada masa Partai Demokrat berkuasa seringkali perekonomian Indonesia tersendat karena kebijakan-kebijakan itu. Sementara pada masa pemerintahan Bush sebenarnya Indonesia banyak diuntungkan dengan kebijakan-kebijakannya.
Jadi, ketika masyarakat Indonesia menaruh simpati berlebihan kepada seorang Barrack Obama, bukankah itu pertanda bahaya? Apa yang terjadi bila kemudian fakta yang muncul tidak sesuai dengan apa yang mereka angan-angankan?
Satu hal yang paling penting di sini sebenarnya kenyataan bahwa Barrack Obama adalah capres AS, bukan Indonesia! Alangkah konyolnya ketika dalam suatu dialog di sebuah TV swasta dimunculkan pernyataan bahwa bila Obama menang, maka kemungkinan hubungan AS dan Indonesia akan lebih baik mengingat Obama pernah bersekolah di Indonesia (!!!)
Saya memang pengagum Barrack Obama, seperti saya mengagumi Al Gore, Oprah, Soekarno, dan tokoh-tokoh penting lainnya, tapi saya 100% sadar bahwa saya bukan warga AS dan tidak ada urusan sama sekali dengan berjalannya pemilu di sana. Terinspirasi? Ya. Terpengaruh? Sama sekali tidak.
Banyak hal yang perlu dipelajari dari demokrasi AS, tapi bukan berarti mencontohnya 100%, apalagi ikut-ikutan menentukan pilihan.
Saya, kamu, Anda, kalian, adalah warga negara Indonesia, maka hiduplah dengan menjunjung tinggi negara ini. Seburuk apapun, bukankah kita tetap mencintai dan bangga kepada diri sendiri? Maka, seburuk apapun negara ini, tetaplah cinta dan bangga kepadanya. Kita tinggal di bumi Indonesia, menghirup udaranya, meminum airnya, menginjak tanahnya. Berikanlah sedikit rasa terimakasih kita kepada ibu pertiwi, jangan biarkan ia terus bersusah hati.
Panik Batik!
Batik. Batik. Batik.
Salah satu kekayaan Indonesia yang satu itu nggak ada habisnya jadi topik pembicaraan di mana-mana. Yang sempat dipatenkan Malaysia lah, yang ditiru lah.. Nah, berita terbaru yang ada di koran Kompas pagi ini adalah maraknya batik asal Cina yang harganya bisa lebih murah sampai setengahnya!
Bagaimana bisa ada selisih harga sejauh itu?
Ternyata Cina menggunakan teknik printing untuk batik yang mereka produksi, tidak seperti Indonesia yang menggunakan canthing atau cap. Dengan dicetak langsung pada kain, maka batik bisa diproduksi massal dalam waktu yang relatif singkat. Tentunya penghematan waktu & tenaga mampu mengurangi biaya produksi. Selain itu, bahan baku pembuatan batik di Indonesia ternyata 80%-nya perlu diimpor dari Cina(seperti benang, sutra, cat, dll) sehingga otomatis batik buatan Cina menjadi lebih murah.
ini salah satu contoh batik print buatan China
Ironisnya, batik buatan Cina itu masuk juga ke Indonesia dengan harga jual yang jauh lebih murah! Hal ini mengancam para perajin batik Indonesia karena batik Cina itu -dengan harga yang lebih murah- mampu menarik lebih banyak konsumen.
Sebagai pecinta batik -dan warga negara yang mencintai kebudayaan Indonesia- saya merasa sangat kecewa dengan munculnya ‘kasus’ ini. Mengapa pemerintah mengizinkan impor batik Cina? Meskipun katanya sebagian besar produk tersebut masuk ke Indonesia secara ilegal, tapi kenapa seperti tidak ada tindakan untuk mencegah maraknya perdagangan batik buatan Cina itu? Bahkan pemerintah menyatakan tidak khawatir dengan masuknya batik Cina ke Indonesia karena batik Indonesia unggul dari segi kualitas. Seharusnya mereka sadar, daya beli masyarakat Indonesia pada umumnya masih rendah sehingga mereka pasti memilih produk yang lebih murah.
Parahnya, saya yang penggemar berat batik sudah terlanjur membeli beberapa potong blus batik yang sepertinya buatan CIna. Bagi para konsumen batik, sebaiknya perhatikan baik-baik sebelum membeli, karena sebenarnya bisa dibedakan antara batik Cina & batik Indonesia seperti berikut ini:
1. Harga batik Cina lebih murah, dalam kisaran Rp. 50.000,-
2. Karena dibuat dengan cara printing, maka batiknya lebih mudah pudar dibandingkan batik tulis atau cap.
3. Sekilas memang sulit dibedakan, namun dari segi kualitas gambar terlihat perbedaan antara batik Cina & Indonesia, di mana batik yang dibuat dengan canting atau cap tentu lebih berkualitas.
Hati-hati dalam membeli batik. Maksud hati memajukan batik dalam negeri, salah-salah justru menguntungkan negara lain….
i dont do 9 to 5
Dimulai dari munculnya pertanyaan, “Kak, mau nonton konser nggak besok?” yang aku jawab, “Jam brp?Aduh, ga bisa bsk kerja.. Gw kan kerja malam. Hehehe…”
dan dia bertanya lagi, “Lho kerja di mana emg? Kok ngantornya sampe sore-malem gitu?”
dan aku menjawab lagi, “Lha gw kan nggak ngantor, gw main biola di suatu acara di hotel.”
dan seseorang menimpali, “Yaelahh.. bilangnya kerja…”
Hmm. Apakah kerja identik dengan kantor? Dengan jam kerja yang 9.00-17.00 atau 8.00-16.00 atau ya sekisaran itu lah. Apakah kerjaan di luar itu namanya bukan kerja? Padahal kan sesuatu apapun yg menghasilkan uang itu namanya kerja. Dan dapet duit dari mana pun asalkan halal ya nggak masalah kan? Pandangan orang Indonesia soal kerja itu agak mengecewakan.
Sebagian besar orang berpendapat ‘kalo belum ngantor ya belum kerja namanya’. Padahal yg namanya kerja kantoran itu kan tempatnya terbatas. Udah gitu bosenin – ngejalanin rutinitas yg sama tiap hari, ketemu orang2 yang sama, bingung pake baju apa besok, nunggu promosi, dst.. dst.. Pantesan aja banyak pengangguran di Indonesia, karena sebagian orang mikirnya sama: ngelamar kerja.
Sekarang aku sebel dibilang pengangguran. Hey, nggak kerja di kantor bukan berarti pengangguran! Toh aku tetep nge-job & merintis bisnis merchandise bareng temen2. Selama duit mengalir lancar nggak ada masalah kan? Siapa tau nanti bisa jadi perusahaan gede & malah ngebuka peluang kerja (amin).
Aku lebih memilih jadi enterpreneur daripada jadi pegawai biasa. Buat merintis ini memang lebih susah dibanding ngelamar kerja, makanya banyak yang ambil jalan pintas kerja kantoran. Bisnis emang perlu risiko, perlu kekuatan mental & ketebalan muka buat ngejalaninnya. Nah itulah masalahnya, orang Indonesia itu pemalas, makanya jumlah enterpreneur di Indonesia itu ternyata cuma 0,7% dari total penduduk! Gila! Padahal di Singapura bisa sampe 8%. Ckckck… Pantesan aja lahan kerja sangat sangat terbatas. Padahal katanya supaya suatu negara itu bisa makmur, diperlukan enterpreneur sebesar minimal 5% dari total penduduk. Tuh.
Jadi? Apakah kerja = duduk di kantor berjam-jam nunggu promosi?
Berhubung aku tinggal di Bandung yang katanya creative city, jadi kerja kantoran sama sekali nggak menarik. Aku mau bermusik & berbisnis aja terus. Yang penting fokus! Kata Martha Tilaar, semua orang bisa jadi enterpreneur asalkan fokus & nggak tergoda untuk pindah haluan. Itu yang susah, karena kayak aku bilang tadi harus siap mental & tebel muka.
Jadi kalau ada yang nanya aku kerja apa & aku jawab “Wiraswasta” itu aku SERIUS. Seumur hidup aku nggak bakal ngelamar kerja kok. Jangan harap. Tapi bukan berarti aku pengangguran kan??
Dedikasi 100%

“Semangat bermusik saya tidak akan pernah mati” (Chrisye)
Akhirnya aku selesai membaca buku ‘Chrisye – Sebuah Memoar Musikal’. Buku ini dulu baru sempat dibaca sekitar 1/3-nya, terhambat padatnya jadwal kuliah, pengerjaan tugas2, latihan, manggung, dsb – yang memang sempat membuat aku ‘tidak sempat bernapas’ atau bahasa lainnya ‘nggak gaul’. Terpenjara dalam aktivitas sampai-sampai berangkat pagi pulang malam & rumah hanya berfungsi sebagai tempat tidur. Sekarang, di saat sedang mutlak menganggur, aku menggila dgn kembali membaca beberapa buku, dan memoar musikal ini salah satunya.
Sejak kecil aku sudah terpesona oleh suara emas Chrisye, & lagu ‘Lilin-lilin Kecil’ menjadi favoritku sampai sekarang. Kagum, itu pasti. Tapi yang aku tahu tentang beliau cuma kenyataan bahwa beliau adalah seorang penyanyi yang spektakuler (tanpa banyak gerak bisa membius penonton! Hebat!), aku tidak pernah tahu betapa filosofisnya beliau & betapa besar kecintaannya terhadap musik. Aku terpana membaca latar belakang musiknya yang seperti itu – tidak perlu dirinci seperti apa, baca aja sendiri biar penasaran, hihihi. Jadi sebenarnya apa yang mampu beliau persembahkan, tampilkan, sebesar itu semata-mata karena kecintaannya terhadap musik dan keseriusannya menghadapi bidang tersebut!
Beliau menyebutkan bahwa ia hanya bisa memfokuskan diri pada satu bidang. Hal itu seperti menamparku. Selama ini aku merasa bisa melakukan banyak hal sekaligus sehingga aku merasa sebenarnya semua orang pasti bisa, termasuk Chrisye. Hanya saja, ia lebih memilih untuk berkonsentrasi 100% pada satu bidang. Itulah yang membuat hampir semua karyanya berkualitas 100%, tidak seperti sebagian besar orang saat ini -termasuk aku.
Sepanjang membaca perjalanan bermusiknya, aku merasa beliau begitu beruntung karena bisa bertemu dengan berbagai kalangan yang semakin memuluskan langkahnya dalam bermusik. Tapi, setelah membaca komentar berbagai ‘kalangan’ tsb, pikiran pertamaku sebenarnya muncul karena kerendahan hati seorang Chrisye. Keberuntungan memang perlu, tapi semua yang diraihnya itu mutlak merupakan hasil kerja keras, ketekunan, & rasa cintanya pada musik. Itu semua dipegangnya teguh hingga akhir hayatnya. Luar biasa. Artis mana lagi yang bisa bersikap seperti itu? Chrisye adalah manusia langka, manusia pilihan, seorang legenda, & sumber inspirasi setiap orang.
Satu hal yang membuatku tersentuh adalah ketika membaca tulisan betapa sulitnya beliau ketika menyanyikan lagu ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’. Begitu sulitnya hingga beliau berulangkali menangis, & rekaman pun hanya dilakukan sekali saja – tak mau lagi ia mengulangnya. Ruh dalam lagu itu begitu kuat, itu kira2 yang memberatkannya. Sekali lagi, aku merasa konyol. Begitu dalamnya penghayatannya dalam musik, begitu dalam pemahamannya akan sebuah lagu.
Terima kasih alm. Chrisye, buku memoar musikal itu seperti menyadarkan aku bahwa memang tidak ada yang mudah, tapi apapun kalau dikerjakan sepenuh hati pasti akan menghasilkan ’sesuatu’. Di tengah berbagai kebimbanganku, Tuhan seperti memberikan petunjuk agar aku memantapkan hati dan menguatkan keyakinanku. Aku berjanji, tidak akan pernah meragukan sedikitpun kebesaranMu. Subhanallah. Buku memoar musikal itu sesuai dengan apa yang beliau inginkan – beserta tim yang terlibat di dalamnya, yaitu memberikan harapan, impian, dan inspirasi.
Aku tersadar. Tidak ada yang lebih baik daripada kejujuran, rasa cinta, dan dedikasi 100%. Jujur, tidak menipu dengan berpura-pura mengemas diri menjadi orang lain, biarkan orang mengenal kita apa adanya. Mencintai bidang apapun yang ditekuni, hingga rasanya tidak mampu berpisah walau sedetikpun & tidak ragu sedikitpun akan bidang tersebut. Dedikasikan diri kita seutuhnya, jangan pernah setengah-setengah atau patah semangat – percaya dan yakin dengan apa yang kita kerjakan. Pada akhirnya, segala kerja keras itu tidak akan pernah ada yang sia-sia, walaupun hasilnya mungkin tidak langsung terlihat.
Perjalanan hidup benar-benar pengalaman yang berarti, & aku sangat berterimakasih kepada almarhum yg berkenan susah payah berbagi di tengah deraan penyakitnya. Semoga beliau diberi ketenangan di sisiNya. Semoga di sisa usiaku setelah ini aku bisa berbuat lebih banyak kebaikan dan meminimalisasi keburukanku. Amin.
Seperti Alm. Chrisye, aku juga percaya bahwa semangat bermusikku tidak akan pernah mati.
Rokok oh Rokok….
Berawal dari terkurungnya aku di rumah beberapa hari ini – sebetulnya cuma 2 hari sih – terpikirlah masalah rokok yg memang selalu bikin pusing kepala. Jadi, 2 hari diam di rumah artinya 2 hari menghirup udara bersih (bebas asap rokok & kendaraan bermotor). Begitu aku keluar rumah siang ini, pernapasanku langsung terganggu. Di angkot, di jalanan, di food court, di manapun pasti ada asap rokok yg mengganggu pernapasan & penglihatan. Hhhhh….. Kalau sudah begini aku pasti berpikir, “Ya Allah, bukankah merupakan hak setiap orang untuk dapat menghirup udara bersih??”
Dlm berbagai artikel disebutkan, perokok di Indonesia ini jumlahnya super duper besar - sampai2 anak SD pun sudah mulai merokok – dan sebagian besar perokok berasal dari kalangan menengah ke bawah. Hmm… kalau yg menengah ke atas ngisep cerutu kali ya? Kenapa bisa begitu? Kenapa bagi mereka merokok itu jauh lebih penting daripada makan? Jelas2 makan itu lebih nikmat & sehat….

Kalau dilihat dari kandungan di dalamnya, jelas2 rokok itu beracun. Isinya mencakup racun tikus, pestisida (nikotin), karbon monoksida, aseton, gas radioaktif, amonia, hidrogen sianida, dll. Kayaknya semua org tau betapa beracunnya rokok & bahayanya thd kesehatan ya. Tapi, sebagian orang berpendapat “Nantinya semua org pasti mati, jd mau mati lebih cepet gara2 rokok atau nggak ya sama aja.” Betul sih. Aku nggak pernah ngelarang orang ngerokok, itu sih hak asasi. Tapi, kalau ngerokok tolong jangan bagi-bagi racun ke orang yg nggak ngerokok dong! Kalo mau mati ya mati aja sendiri, nggak usah bawa2 orang lain.
Menurutku, sebagian besar perokok adalah orang-orang yang apatis & individualistis. Kenapa? Karena mereka seakan menikmati dunianya sendiri – dunia seakan milik dia & rokoknya. Mereka tidak peduli dampak asap rokok terhadap perokok pasif. Umumnya, orang yang merokok di angkot – termasuk supir angkotnya – tidak peduli walaupun aku sudah buka jendela lebar-lebar sambil batuk2 sedemikian ekstrimnya. Apa aku harus pingsan di tempat atau gotong2 tabung oksigen supaya mereka sadar bahwa aku merasa terganggu? Belum lagi perokok yg suka membuang puntung rokok sembarangan tanpa dimatikan. Sepanjang tol cipularang rumput-rumput di samping jalan itu terlihat hitam terbakar rokok yang dibuang begitu saja ke jalan. Membuang sampah sembarangan itu salah, apalagi kalau sampai menyebabkan kebakaran!
Wajar kan, kalau aku bilang perokok itu orang2 yang apatis? (Walaupun ada saja perokok yang sopan – mungkin jumlahnya hanya 1 : 1000 – yang mau mematikan rokoknya ketika di dalam angkot; yang meminta izin dulu sebelum merokok; yang tidak merokok di depan ibu hamil, dll.) Memang hak setiap orang untuk merokok, & aku menghormatinya. Tapi, kami yang bukan perokok juga punya hak untuk menghirup udara segar! Udara ini bukan milik siapa-siapa, jadi tolong jangan dikotori, jangan direnggut begitu saja.
Oh iya, satu lagi yg tidak dapat dimengerti. Katanya salah satu alasan seseorang mulai merokok supaya dibilang keren, dibilang dewasa ya? Hahaha… Pendapat yg aneh. Menurutku sih orang yang merokok itu sama sekali nggak keren.
masih suasana kemerdekaan
Berhubung masih deket2 17 agustus, jadi pengen nulis tentang Indonesia lagi. Hehehe..
Sebetulnya terinspirasi dari dunia hiburan di Indonesia ini yang makin lama makin semrawut. Sinetron makin nggak berkualitas, yg nongol di TV cuma jual tampang doang. Bahkan mereka nggak layak disebut artis, karena artis kan diambil dari kata artist yang berarti seniman. Nah kalo orang2 jual tampang itu apa namanya? Nggak tau deh.. Mirisnya lagi, saya pernah baca di salah satu harian nasional mengenai itu. Seorang promotor artis berkata, “Lebih baik mencari penyanyi yg suaranya biasa2 saja tapi berwajah cantik drpd yg suaranya bagus tp jelek. Karena lebih murah membiayai les menyanyi daripada operasi plastik.” Itulah gambaran industri dunia hiburan saat ini, sama seperti panggung politik. Yang penting kemasan, bukan isi. Pantas banyak artis masuk dunia politik. Lho, kok jadi merembet ke politik…?
Yang jelas, perilaku para “artis” itu kadang bikin kesel sendiri, kadang cuma bisa geleng2 kepala. Yah, gimana manusia bersikap itu pilihan, tapi ya… Susahnya kalau yg berperilaku buruk itu ternyata sosok yg dikenal banyak orang, lalu kelakuannya ditiru karena sosok itu merupakan public figure. Contoh yg paling jelas yaitu penggunaan bahasa. Gara2 para “artis” itu rata2 berbahasa campursari alias Indonesia diseling Inggris – atau sebaliknya, Inggris diseling Indonesia, jadilah para rakyat jelata itu mengikuti tingkah mereka. Mungkin maksudnya ‘biar keren kayak artis A’ atau si B, si C… siapapun lah. Ini juga terinspirasi dari tulisan di harian Kompas hari ini yg saya baca tadi pagi tentang masyarakat Indonesia yg mulai kehilangan rasa bangga dgn bahasanya sendiri.
Jadi teringat cerita lucu ttg penggunaan bahasa asing yang mulai merakyat…
Beberapa waktu lalu (udah agak lama sih) saya pulang menebeng teman naik motor. Nah, helm teman saya itu dititipkan di tukang parkir yg jaga di pos depan area parkir itu. Dia meminta ke tukang parkir itu, “Mas, mau ngambil helm, tadi dititipin tapi nggak dikasih nomer.”
Tukang parkir: “Helmna nu mana? Nu merek naon?”
Teman: “Yg merk ***”
Tukang parkir: “Helmna nu halpes?” (E pada ‘halpes’ dibaca seperti pada kata ‘es’)
Teman: “??? Apa? Hal…?”
Tukang parkir: “Enya, helmna nu halpes atawa pulpes?”
…..kalau saya tidak di sana, saya sudah tertawa terguling-guling….
Teman: “Oh… maksudnya HALF FACE?? FULL FACE???”
Tukang parkir: “Enya’, halpes.. Teu tiasa basa Inggris nya?”
Teman: “??????”
Ada istilah ketika berada di Roma, berlakulah seperti orang Roma. Maka, tidak salah kan kalau saya mengatakan “ketika berada di Indonesia, gunakanlah bahasa Indonesia” ?
170808
63 tahun sudah Indonesia merdeka, dgn segala dinamikanya. Angka 63 itu kalo diterapkan ke manusia berarti cukup tua ya, apalagi Rasulullah Muhammad SAW wafat di usia 63 tahun. Tapi tunggu, kalau itu dijadikan patokan… Akankah negara Indonesia ini mati di usianya yang ke-63??
Setiap perayaan kemerdekaan Indonesia, rasa nasionalisme selalu kembali tumbuh setelah selama setahun mengalami ketidakstabilan – setidaknya bagi saya. Dalam kurun waktu setahun, nasionalisme itu diombang-ambing oleh beberapa faktor yang dominan:
1. Kondisi lalu lintas. Rasanya malu melihat bangsa ini begitu semrawut, kampungan, & tidak patuh terhadap aturan yg berlaku. Jangankan rakyat mau patuh, wong aturannya aja nggak jelas… Sekarang tanda2 lalu lintas dibuat dlm bentuk tulisan panjang2, bukan rambu2 seperti dulu. Mungkin karena tdk ada yg mengerti makna rambu2 tsb, bahkan polisi yg bertugas. Belum lagi pengendara motor & angkutan umum yg sembarangan, nyetir silang kanan-kiri mbingungi… Pengendara kendaraan pribadi juga sama noraknya. Nggak ada sopan santun sama sekali. Jadinya tiap kali keluar rumah yg ada kepalaku berasap, terjadi penuaan dini…
2. Masih terinspirasi dari jalanan. Sepanjang jalan dari rumah ke kampus, yg memakan waktu sekitar 45-60 menit, banyak hal yg mengganggu pikiran. Jumlah pengemis & pengamen makin banyak - mulai dari anak yg terlalu kecil, org dewasa yg sehat tp malah minta2 doang, sampe yg udah uzur yg harusnya duduk di rumah menikmati masa tua. Di sisi lain, jumlah mobil mewah juga makin banyak. Ini gejala sosial yg aneh, di mana yg kaya makin kaya & yg miskin makin miskin. Liat aja itu tiap weekend, jalanan kota Bandung selalu padat oleh kendaraan pribadi yg isinya orang2 yg gemar buang duit.
3. Berita korupsi. Ini yg paling bikin kesel. Beritanya nggak cuma datang dari siaran berita di TV, tapi juga dari org2 di sekitarku. Penggelapan dana ratusan juta rupiah terjadi begitu saja di pemda Jabar. Pantesan, jabatan ga seberapa tapi bisa dpt Yaris, Altis, & mobil2 mewah lainnya. Korupnya nggak main2… Uang rakyat diembat juga.. Memangnya mereka nggak takut ditagih di akhirat ya? & keselnya lagi, kok ya bisa yg begitu dibiarin aja? Malah ada kecenderungan org yg ‘bersih’ itu justru masuk golongan marjinal di pemerintahan. Nggak beres. Ya gimana, pilwakot kmrn aja yg menang itu lagi, yg kerjanya pas masa kampanye doang. Buktinya begitu dia kepilih, perbaikan jalannya lgsg mandeg.
4. Hutanku gundul. Ternyata tidak hanya di Papua, Kalimantan, & Sumatera hutan2 itu menggundul. Beberapa waktu lalu aku melihat kondisi yg serupa di sekitar Lembang. 10 tahun yg lalu, pepohonan masih menghiasi gunung2 itu, namun belakangan ini gunung2 tsb berubah warna menjadi coklat gersang. Selain digunakan untuk membukan lahan baru, pembalakan liar pun marak di berbagai daerah di Indonesia. Apa yg ada dalam pikiran mereka? Memangnya kita bisa terus hidup tanpa menjaga keseimbangan alam? Sumpah aku nggak ngerti pemikiran mereka.
5. Politikus banyak omong. Saat ini terlalu banyak pemilihan, sampai2 aku 2x memutuskan golput. Bukannya tidak mendukung demokrasi, tapi siapa yg harus aku pilih? Orang2 yg sama, orang2 yg setipe, orang2 yg terlalu banyak bicara… Lagipula, apa bedanya aku nyoblos atau nggak? Toh aku cuma membawa 1 suara. Beda dgn Indonesian Idol misalnya, di mana 1 org bisa memberikan suara sebanyak2nya. Aku yakin sebagian besar masyarakat pun sudah jenuh dgn tampilnya orang2 yg itu2 lagi. Kalau pilpres tahun depan isinya masih itu2 saja, mungkin aku akan golput lagi. Percuma. Janji palsu yg terlampau banyak membuatku malas terlibat. Lebih baik aku saja yg jd walikota, gubernur, menteri, bahkan presiden. Sekarang sudah bukan masanya mereka mencalonkan lagi & mengacaukan negara ini – eh tapi bukannya aku nggak mendukung SBY ya.. Sebenernya dia cukup kompeten, tapi nggak didukung sama orang2 di bawahnya. Sayang.
Apapun faktor yg memfluktuasi kadar nasionalismeku, bagaimanapun juga aku tetap termasuk ke dalam bangsa Indonesia yg besar ini. Masih ada hal2 yg membanggakanku walau hanya sedikit. Untuk ke depannya, aku akan terus memupuk rasa cinta kepada tanah air & kemudian berusaha mengembalikan rasa kebangsaan itu. Sebagian besar orang telah kehilangan nasionalisme, bahkan cenderung individualistis. Entah apa yg dapat mengembalikan rasa cinta kepada negara & bangsa, serta kepedulian terhadap sesama, kepedulian thd lingkungan.
Melihat kondisi sekarang ini… Akankah Indonesia mati? Semoga tidak.


